Lewati ke konten utama
VaginismusSupport
Pustaka Edukasi

Untuk pasangan: mendampingi dan menjaga keintiman

Cara bicara, peran pasangan dalam pemulihan, dan keintiman tanpa penetrasi lewat latihan sensate focus.

Pasangan · 1 menit baca · 3 sumber penelitian

Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter. Bila keluhanmu berat atau tidak membaik, .

Vaginismus memengaruhi kalian berdua

Pasangan yang memahami kondisinya bisa mengurangi tekanan, dan tekanan yang lebih ringan membantu otot lebih mudah mengendur.

Cara bicara yang membantu

  • Pilih waktu tenang, bukan tepat setelah percobaan yang gagal.
  • Pakai kalimat “aku”, misalnya: “Aku ingin kita menghadapinya bersama.”
  • Dengarkan tanpa memotong atau menyalahkan.
  • Sepakati bahwa siapa pun boleh berhenti kapan saja tanpa perlu menjelaskan.

Yang sebaiknya dihindari

  • Memaksa atau terus mencoba saat pasangan kesakitan.
  • Menganggapnya sebagai penolakan pribadi.
  • Membicarakannya ke orang lain tanpa izin pasangan.
  • Menetapkan tenggat waktu.

Keintiman tanpa penetrasi: sensate focus

Sensate focus adalah latihan sentuhan bertahap yang dipakai dalam terapi seks, termasuk dalam program terapi kognitif-perilaku untuk vaginismus (van Lankveld dkk. 2006).

  1. Tahap awal: saling menyentuh tubuh secara bergantian tanpa menyentuh area genital dan payudara. Fokus pada sensasi, bukan pada gairah.
  2. Tahap berikutnya: sentuhan boleh mencakup area genital, tetap tanpa penetrasi.
  3. Tahap lanjut dilakukan saat keduanya siap, biasanya seiring kemajuan latihan dilator.

Aturan utamanya: tidak ada target, dan penetrasi tidak dilakukan sampai kalian berdua sepakat siap.

Perlukah pasangan ikut dalam penanganan?

Dalam uji terapi paparan yang berhasil di Belanda, pasangan hadir di sesi latihan (ter Kuile dkk. 2013). Namun ringkasan penelitian tidak menemukan perbedaan hasil antara penanganan yang melibatkan pasangan dan yang tidak (Maseroli dkk. 2018). Jadi keterlibatan pasangan sebaiknya disesuaikan dengan kenyamanan kalian berdua. Tanyakan pada dokter atau terapis apakah pasangan perlu ikut ke sesi konsultasi.

Menjaga diri sendiri

Pasangan juga bisa merasa frustrasi atau sedih, dan perasaan itu wajar. Konseling pasangan bisa menjadi tempat aman untuk membicarakannya.

Referensi

  1. van Lankveld JJDM, ter Kuile MM, de Groot HE, dkk. (2006). Cognitive-behavioral therapy for women with lifelong vaginismus: a randomized waiting-list controlled trial of efficacy. Journal of Consulting and Clinical Psychology. Buka sumber (tab baru)
  2. ter Kuile MM, Melles R, de Groot HE, dkk. (2013). Therapist-aided exposure for women with lifelong vaginismus: a randomized waiting-list control trial of efficacy. Journal of Consulting and Clinical Psychology. Buka sumber (tab baru)
  3. Maseroli E, Scavello I, Rastrelli G, dkk. (2018). Outcome of medical and psychosexual interventions for vaginismus: a systematic review and meta-analysis. The Journal of Sexual Medicine. Buka sumber (tab baru)

Butuh pendampingan langsung?

Klinik bisa membantu menyusun penanganan yang sesuai kondisimu.

Cek mandiri

Artikel lain