Mengapa vaginismus terjadi?
Faktor tubuh, pikiran, pengalaman, dan hubungan yang bisa ikut berperan, dan mengapa penyebabnya jarang tunggal.
Dasar · 2 menit baca · 5 sumber penelitian
Jarang ada satu penyebab
Para peneliti memandang nyeri saat berhubungan sebagai masalah biopsikososial: faktor tubuh, pikiran, dan hubungan saling memengaruhi (Meana & Binik 2022). Penyebab pada satu orang bisa berbeda dengan orang lain, dan sering tidak ditemukan satu pemicu yang jelas.
Kamu tidak harus menemukan penyebab pastinya dulu untuk mulai membaik. Tapi mengenali faktor yang berperan membantu memilih penanganan yang tepat.
Faktor fisik
- Infeksi atau peradangan di area vulva dan vagina.
- Pelumasan yang kurang, misalnya karena gairah belum cukup atau perubahan hormon.
- Kondisi lain yang menimbulkan nyeri, seperti vulvodinia, gangguan otot dasar panggul, atau endometriosis.
- Pengalaman fisik yang menyakitkan, misalnya pemeriksaan atau tindakan medis.
Dokter perlu memeriksa kemungkinan-kemungkinan ini, karena nyeri dari penyebab lain butuh penanganan yang berbeda (Hill & Taylor 2021). Nyeri yang awalnya berasal dari kondisi fisik juga bisa meninggalkan rasa takut yang menetap walau kondisinya sudah sembuh.
Faktor psikologis dan pengalaman
Rasa takut terhadap nyeri, kecemasan, dan keyakinan bahwa penetrasi pasti menyakitkan sering berperan besar dalam vaginismus (ter Kuile dkk. 2015).
Sebuah meta-analisis menemukan riwayat kekerasan seksual dan kekerasan emosional lebih sering dijumpai pada perempuan dengan vaginismus (Tetik & Alkar 2021). Ini hubungan statistik. Artinya, tidak setiap orang dengan vaginismus pernah mengalami kekerasan, dan banyak yang tidak punya riwayat seperti itu.
Pengetahuan dan pesan yang ditanamkan
Kurangnya informasi tentang tubuh dan hubungan seksual, ditambah pesan bahwa seks itu tabu atau pasti sakit pada malam pertama, bisa memperkuat rasa takut. Sebuah studi pada 100 pasangan di Arab Saudi menyebut kurangnya pengetahuan tentang hubungan seksual sebagai faktor utama, dan 96% berhasil setelah edukasi seks yang digabung dengan desensitisasi bertahap (Muammar dkk. 2015).
Faktor hubungan
Tekanan dari pasangan atau keluarga, misalnya tuntutan segera hamil, konflik, atau rasa bersalah, bisa menambah ketegangan. Sebaliknya, pasangan yang sabar dan memahami kondisinya bisa menjadi pendukung penting dalam pemulihan.
Referensi
- Meana M, Binik YM (2022). The biopsychosocial puzzle of painful sex. Annual Review of Clinical Psychology. Buka sumber (tab baru)
- Hill DA, Taylor CA (2021). Dyspareunia in women. American Family Physician. Buka sumber (tab baru)
- ter Kuile MM, Melles RJ, Tuijnman-Raasveld CC, dkk. (2015). Therapist-aided exposure for women with lifelong vaginismus: mediators of treatment outcome. The Journal of Sexual Medicine. Buka sumber (tab baru)
- Tetik S, Yalçınkaya Alkar Ö (2021). Vaginismus, dyspareunia and abuse history: a systematic review and meta-analysis. The Journal of Sexual Medicine. Buka sumber (tab baru)
- Muammar T, McWalter P, Alkhenizan A, dkk. (2015). Management of vaginal penetration phobia in Arab women: a retrospective study. Annals of Saudi Medicine. Buka sumber (tab baru)