Lewati ke konten utama
VaginismusSupport
Pustaka Edukasi

Mengelola rasa takut dan pikiran yang menghambat

Mengenali pikiran yang memperkuat rasa takut, cara menantangnya, dan kapan perlu bantuan psikolog.

Emosi · 2 menit baca · 4 sumber penelitian

Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter. Bila keluhanmu berat atau tidak membaik, .

Pikiran ikut menentukan

Penelitian terapi paparan menemukan bahwa perbaikan terjadi terutama ketika keyakinan negatif tentang penetrasi berkurang, khususnya keyakinan bahwa penetrasi pasti sangat menyakitkan (ter Kuile dkk. 2015). Cara kita memikirkan penetrasi ikut menentukan seberapa tegang tubuh bereaksi.

Pikiran yang sering muncul

  • “Pasti sakit sekali.”
  • “Vaginaku terlalu kecil.”
  • “Aku tidak akan pernah bisa.”
  • “Ada yang salah dengan diriku.”

Peneliti menggolongkan pikiran-pikiran ini sebagai keyakinan nyeri yang berlebihan, keyakinan bahwa ukuran alat kelamin tidak cocok, dan perasaan tidak punya kendali (ter Kuile dkk. 2015).

Menantang pikiran itu

  1. Tuliskan pikiran yang muncul sebelum atau saat latihan.
  2. Tanyakan pada dirimu: apa buktinya? Adakah pengalaman yang tidak sesuai dengan pikiran ini?
  3. Tulis versi yang lebih seimbang, misalnya: “Latihan kemarin tidak nyaman, tapi aku bisa berhenti kapan saja dan nyerinya berkurang saat aku bernapas.”
  4. Baca catatan ini sebelum sesi latihan berikutnya.

Tangga langkah kecil

Memahami saja jarang cukup untuk meredakan rasa takut. Yang membantu adalah mengalami langkah-langkah kecil yang ternyata aman. Susun tangga langkah dari yang paling ringan, misalnya melihat area luar dengan cermin, lalu menyentuhnya, lalu menyentuh dengan jari, lalu dilator terkecil. Naik satu anak tangga saat langkah sebelumnya sudah terasa cukup tenang. Paparan bertahap seperti ini adalah inti dari terapi yang sudah diuji (ter Kuile dkk. 2013; van Lankveld dkk. 2006).

Bersikap baik pada diri sendiri

Rasa malu dan menyalahkan diri membuat tubuh makin tegang. Bicaralah pada dirimu seperti kamu bicara pada sahabat yang mengalami hal yang sama.

Kapan perlu psikolog

  • Rasa takut atau panik membuatmu tidak bisa memulai latihan sama sekali.
  • Ada riwayat pengalaman seksual yang menyakitkan atau traumatis.
  • Rasa cemas atau sedih mengganggu kehidupan sehari-hari.
  • Vaginismus menimbulkan konflik berat dalam hubungan.

Riwayat kekerasan seksual dan emosional lebih sering ditemukan pada perempuan dengan vaginismus, dan peneliti menyarankan hal ini ditanyakan dan ditangani sebagai bagian dari penanganan (Tetik & Alkar 2021). Psikolog klinis atau terapis seks bisa mendampingimu dengan aman.

Kalau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi tenaga kesehatan, IGD terdekat, atau orang yang kamu percaya.

Referensi

  1. ter Kuile MM, Melles RJ, Tuijnman-Raasveld CC, dkk. (2015). Therapist-aided exposure for women with lifelong vaginismus: mediators of treatment outcome. The Journal of Sexual Medicine. Buka sumber (tab baru)
  2. ter Kuile MM, Melles R, de Groot HE, dkk. (2013). Therapist-aided exposure for women with lifelong vaginismus: a randomized waiting-list control trial of efficacy. Journal of Consulting and Clinical Psychology. Buka sumber (tab baru)
  3. van Lankveld JJDM, ter Kuile MM, de Groot HE, dkk. (2006). Cognitive-behavioral therapy for women with lifelong vaginismus: a randomized waiting-list controlled trial of efficacy. Journal of Consulting and Clinical Psychology. Buka sumber (tab baru)
  4. Tetik S, Yalçınkaya Alkar Ö (2021). Vaginismus, dyspareunia and abuse history: a systematic review and meta-analysis. The Journal of Sexual Medicine. Buka sumber (tab baru)

Butuh pendampingan langsung?

Klinik bisa membantu menyusun penanganan yang sesuai kondisimu.

Cek mandiri

Artikel lain